Senin, 12 September 2016

Intuisi itu nyata?



"Mencintaimu adalah yang kedua yang pernah ku lakukan.
Yang pertama adalah menemukanmu.
Kau ada di deretan makhluk penghuni bumi,
Dan hebatnya, radar ini menuntunku padamu.
Tak ada yang kebetulan,
Semua berjalan sesuai takdir dari-Nya.
Dan aku adalah orang kesekian yang percaya akan hal itu."

"Jangan salahkan rasa, 
Salahkan aku,
yang nekat nan berani untuk mencintaimu.
Ku nikmati setiap sendu menahan rindu,
Di detak waktu yang kian mengadu,
Adakah engkau di sudut pintu,
Menungguku,
Wahai penghuni kalbu?"

"Bukan aku yang meminta,
Waktu yang kian tega memberi ruang untuk kita,
Bertemu di sudut khayalan tak bertepi.
Aku hanyalah gadis pengembara yang kesana kemari,
Menebak alur penuh teka-teki,
Bertanya pada diri sendiri,
Apakah bayanganmu nyata?"

"Sendiri bukan berarti menyendiri,
Sepi bukan berarti kesepian,
Sedih bukan berarti kesedihan.
Semua hanya bermodal imbuhan,
Namun berbeda makna.
Aku hanya merasakan yang awal,
Tidak untuk bagian akhir."

"Misteri ini menepis ketajaman mata tak berkedip,
Yang kemudian akrab disapa mata hati,
Kehangatan api tanpa asap,
Seolah mengajakku menari larut dalam kesunyian malam,
Dan bertanya, 'Apa kau bahagia?'"

"Awal tak selalu indah, 
Pun akhir tak selalu muram.
Namun yang sering didengar hanyalah;
Awal itu indah,
Akhir itu pedih nan menyakitkan."

"Ada yang salah dengan diriku,
Entah perasaan mengelabuhi kalbu,
Logika yang miris membisu,
Hati yang berpegang teguh pada pendiriannya,
Tetap bertahan meski diterjang ombak,
Berdiri tegak meski dihantam badai.
Aku ini bodoh, atau kehilangan akal sehat?"

"Terhembus angin dalam ruang intuisi,
Terjebak dalam lubang sanubari,
Menggetarkan pintu hati,
Sambil menggerutu, 'Kemanakah kau pergi?'"

"Intuisi selalu mengarah kepadanya,
Bak kehilangan kesadaran,
Seperti tak sedang memikirkan sesuatu,
Namun tiba-tiba engkau hadir disana,
Di ruang intuisi,
Yang menyimpan banyak teka-teki."

"Tak pernah ku sebodoh ini,
Tetap mencintainya walau tak dicintai,
Tetap mengaguminya walau ia berpaling,
Tetap menunggunya walau semua terlihat sudah tak mungkin,
Sebab rasanya, takdir berkata lain."

"Seperti daun yang jatuh tertiup angin,
Menggulung di atas pasir putih,
Berhembus di udara,
Ku teringat tentang pepatah yang mengatakan;
'buah jatuh tak jauh dari pohonnya',
Begitu pula dengan daun;
Tak jauh dari rantingnya.
Ku dengar suara teriakan,
Namun hanya sunyi sepi yang terasa,
Atau mungkin hanya kalbuku yang menggebu-gebu?"

"Detak waktu terus berjalan,
Ingin rasanya menghentikannya,
Memutar balikkannya kembali,
Memori masa kecil yang amat lugu,
Tak mengenal sedih,
Tak mengenal luka,
Yang ada hanyalah jatuh dari pohon,
Terjatuh dari sepeda,
Tak memikirkan dengan siapa aku merajut cerita nantinya,
Aku hanya terlalu larut dalam kebahagiaan,
Yang perlahan sirna,
Tak pernah menerka-nerka,
Terlalu asik bermain, 
Hingga kesedihan pun enggan menghampiriku,
Saking bahagianya aku."


Tidak diangkat dari kisah nyata.
Bukan curhatan hati juga.
Hanya ingin melampiaskan kata-kata yang kian berlarian di pikiran.
Terimakasih sudah menyempatkan membaca.
Masih sangat amatir dalam merangkai kata.
Namun, tetap ku cinta sastra.

Salam hangat,
Namira.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar